Sajak Cinta Untuk-Mu

Menjelang Shubuh pagi ini.
Kudengar suara orang mengaji.
"Shadaqallaahal adziim".
Dan hatiku menjerit miris.

Kurasakan rindu ini menjerit.
Tertahan di  kerongkongan.
Tercekat di tenggorokan.
Meratap menyayat-nyayat.

Allah Yang Mahatunggal.
Engkau yang Mahaagung pasti telah mengerti.
Beratnya mempertahankan iman yang secuil ini.
Dan hambaMu ini sudah tidak kuat.
Berpuasa Ramadhan lagi.

Kulalui hari demi hari Ya Allah.
Tahun demi tahun menggapai cintaMu.
Dan rinduku tak tertahankan lagi.

Ingin kukatakan padaMu.
Hanya satu hal yang dapat aku lakukan.
Sampai kini.
Kupertahankan Persaksianku walaupun
apa yang terjadi.....
Dalam alam materi dan immateri.

Pernah di suatu waktu terjadi.
Aku tersesat di alam immateri.
Dengan gedung-gedung menjulang tinggi.
Taman tertata asri.
Dan pemakaman terbujur ngeri.

Dalam ketakutan dan kelelahan.
Aku menangis dan berdoa dalam hati.
Kupertahankan Syahadatku,...tekadku.
Biarpun mati disini.

Cukup sampai disini.
Jangan sampai terulang lagi.

Pernah pula di suatu hari.,
di sebuah saat dalam batasan waktu.
Sudah sampai disini lalu kapan lagi?
nasehat pengiringku.

Lalu kami beriringan bergandengan tangan.
Penuh rasa cinta dan penghargaan.
Hampir seperti sebuah pengabdian.
Menuju peristirahatan Syaikhona seluruh Bangkalan.

Lalu apa yang mesti kulakukan?
mintalah pada sang Syaikhona,
kata pengiringku.
Kemudian angin berdesir semilir,
merayapi tubuhku dan tanah berdebu berpasir.
Aku mendengar sebersit suara,
tidak terdengar telinga.
Tapi sangat jelas maknanya.
Cukup shalat sunnah dua raka'at.

Kami mengambil wudlu dan memasuki
Masjid megah itu.
Tampak orang-orang dalam berbagai wajah.
Ibu itu tampaknya sedang asyik membaca Burdah.
Perempuan dan laki-laki bersimpuh terpisah,
walau tanpa tabir melipir.
Kulihat orang-orang melaksanakan shalat,
di beberapa shaf terdepan.
Dalam hamparan sajadah tebal membentang.
Tampaknya sangat nyaman.

Aku bertekad berdiri di shaf terdepan.
Di hamparan karpet tebal nyaman.
Cukup disitu, bisik sang Kyai.
Kuamati posisiku.
Hanya ditengah Masjid.
Persis ditengah kubah.

Rupanya hanya disinilah tempatku,
dihatimu duhai Kyai?
Bisik perasaanku tetekan kecewa.
Tanpa karpet babut tebal nyaman.
Hanya lantai dingin bisu beku sekeras baja.
Kuelus dahiku dengan tangan kiriku.
Duh,.....

Shalat ini sungguh sangat nyaman.
Terasa ruh terbang melayang.
Naik dan turun seirama nyanyian syahdu doa, yang kupanjatkan.
Aku terpekur seusai salam
Hatiku tak ingin beranjak,
menikmati sebuah kebersamaan.

Sekarang pulanglah, aku mengerti maksudmu.
Bukan aku yang kamu mau.
Tapi Dia yang kamu tuju.
Tak perlu lagi kamu datang kesini.
Bacakan al Fathah saja,
jika kamu terkenang kan daku.
Kan ku-amin-kan seluruh doamu.
Dalam keheningan aku ngeloyor pergi.
Kembali berjalan beriringan pulang.

Kukunjungi peristirahatan leluhurku sendiri,
aku hanyalah sekeping darahdagingmu.
Yang tersesat di Pulau Jawa.

Dalam benteng tembol kokoh tebal.
Rumput dan perduan itu mengelilingi,
setinggi dada.
Eyang Buyut Kakung dan Putri.
Sunyi....sepi....sendiri....
Tidak ada suara, tiada pula harapan.
Padahal aku ditemani,
cucumu sendiri duhai Eyang Buyutku.
Tetua seluruh bangsawan Bangkalan.
Kembali terasa,...
Sunyi....sepi....sendiri....
Tetap tak ada jawaban.
Kemudian kami pulang.
Kembali dalam kesendirian.

Kugenggam Panji persaksian ini.
Dalam hatiku selalu....
Dalam tanganku yang terkepal erat.
Bagaikan menjunjung sebuah pataka pusaka.
Sekalipun masih gemetar dalam takut dan kegalauan.
Apa yang terjadi esok nanti?

Aku tak tahu.
Kamupun tidak mungkin bakalan tahu.
Semuanya tertulis dalam catatan abadi.
Milik Dia yang Mahatinggi.

Kupegang janji persaksianku ini.
Kupertahankan yang pertama ini.
Kucoba sekarang melaksanakan rukun yang kedua.
Shalat Lima Waktu.
Semoga tak terasa berat selalu.
Rupanya Islam-ku belum sempurna.
Masih dalam sebuah perjalanan panjang.
Teramat sangat panjang.

Lalu, kapankah kugapai Cahaya Iman.
Cahaya dan Petunjuk.
Seperti nama yang diberikan Eyang Kakungku?
Tiada yang bakalan tahu.
Hanya Dia Yang Mahatahu.

Medio August 4th, 2000.
Kota Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Perhatian Pamanku

"Om, menika wonten lomba menulis novel saking Universitas Negeri Padang kerjasama kaliyan Deakin University Australia. Deadline-e kalih...