Dalam Nyanyian Sunyi

Dalam keliaran jiwa putus asa.
Aku merana hanya karena mengijinkannya 'tuk terluka.
merah.....membakar......marah.....
lebam.....biru.....membisu.
Dingin sunyi sepi.

Teruskah akan begini?
Dalam liar lakumu aku tahu.
Perasaanmu padaku.
Pikiranmu padaku.
Itulah yang kau ungkapkan nyata.
Lalu apa yang engkau sembunyikan?
Tentu jauh lebih parah.
Rupanya itulah pesta perawan jaman ini.
Bayang-bayangmu bergerak liar menggoda.
Menari-nari didepan lelaki.
Dalam ambisi nyanyian sunyi.
Bisu.
Beku
Menderu.
Jauh ada dalam kalbu.

Bayang-bayang memang sangat liar.
Kita rupanya sama saja.
Dengan cara yang sangat berbeda.
Kita berkawan saja ya....?

Aku tak perlu jawabanmu.
Karena aku sudah mengambil keputusan.
Jalan yang akan kulalui dalam kehidupanku.
Sebagaimana.
Kamupun telah memutuskan jalan hidupmu.

Memang selalu akan perlu waktu.
 Setahun...sewindu...sedasawarsa....
Siapa yang kan tahu.
Biarlah sang waktu yang akan menyembuhkan semua luka
yang ada didalam dada.

Akan tiba saatnya nanti.
Nyanyi sepi sunyi sendiri ini akan berganti.
Dengan lagu bermelodi...
...irama riang berdendang senang.
Pasti akan tiba saatnya sendiri.
Aku tahu itu pasti.
Dan sang waktu terus berjalan.
Meninggalkan segala sesuatunya dibelakang.
Selamat jalan sayang....
Au Revoir.

Medio August 3rd.
Kota Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Perhatian Pamanku

"Om, menika wonten lomba menulis novel saking Universitas Negeri Padang kerjasama kaliyan Deakin University Australia. Deadline-e kalih...