Dalam Angkot Biru

Orang Tua itu.
Atau mungkin Yang Dituakan.
Dalam kopiah tarbus hijau.
Meneriaki angkot kami.

Preman berkuasa itu turun dari singgasananya.
Mematikan rokoknya.
Dan mempersilahkan Sang Kyai.
Duduk di tempatnya.
Tempat nyaman di samping sopir.
Memperlakukan Sang Kyai denga penuh,
.......penghormatan,...menyerupai sebuah pengabdian.
Terlontar kata-katanya....
"Orang Jawa itu kebanyakan makan".
".......................tidak pernah tirakat".

Ibu didepanku hampir tak kuasa menahan tangisnya.
Kukatakan padanya.
"Sudahlah Bu,..Orang Jawa itu...".
"Terlalu banyak tirakat, di negeri mereka sendiri".
"Wajar dong,...kalau nemu nasi sebakul".
"Dihabiskan sendiri".
Ibu itu hampir tak kuasa menahan tawa.
"Dasar orang Inggris, nggak ngerti orang Jawa".

Tumpahlah keluh kesahnya,...
Tentang perjuangannya menyambung hidup.
Di Negeri seberang. Tak mampu mengais Rupiah.
Terpaksa memungut Ringgit. Di Negeri seberang.
Pahit.

Semangat perlawawanan itu kawanku.
Muncul membahana dari sorot matanya.
Diucapkannya sebuah mantera.
"Iwak urang dawa sungute"
"Wong wis gerang kok lali nyebute"
Kusambung dengan gurauan.
"Marilah kita nyebut bersama-sama"
"But.....but.....but....but......"
Berderai gelak tawa.
Ibu bakulan itu, yang duduk disampingku.
Tak urung ketularan berani.
Diucapkannya sebuah mantera.
"Eva....eva....Evi....evi....."
"Wong wis cinta kok ra ndang dirabi".
Penumpang yang lain, tak nampak wajahnya.
Karena duduk di pojok.
Mengomentari Negara Gagal ini.
Diucapkannya sebuah mantera.
"Pecut wis diseblakno"
"Barang wis kadung diapakno"

Ternyata kami para Rakyat Sejati.
Selalu mempunyai cara sendiri.
Menyalurkan ketegangan kami.
Dalam hidup yang kian tak pasti.
Di Negeri sendiri.

Dan ternyata mereka itu kawan.
Tak perlu belajar dari Daniel Goleman.
Aduhai indahnya, terasa amat nyaman.

Medio August 6th, 2012.
Kota Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Perhatian Pamanku

"Om, menika wonten lomba menulis novel saking Universitas Negeri Padang kerjasama kaliyan Deakin University Australia. Deadline-e kalih...