Aku Pecandu Narkoba

Dalam keheningan kesunyian yang terasa malam.
Burung prenjak menyanyi seiring perlahan.
Indah terasa pagi ini.

Aku akan selalu mengenangmu.
Duhai Ibu Profesorku.
Tindakanmu sungguh sudah sangat tepat.
Engkau konsulkan aku pada kolegamu.
Seorang doktor yang berwenang menentukan obat.
Sekedar menenangkan syaraf
Agar kembali belajar dengan nikmat.
Seperti biasanya sehari-hari.
Masalah psikoterapi biarlah engkau yang menangani.
Seperti yang selalu terjadi di sore hari.
Di ruang kerjamu.
Bahkan dalam ruang tamu rumah dinasmu.
Yang sederhana itu.

Tapi duhai Ibu.
Engkau pasti tahu cerita selanjutnya.
Aku jujur sekarang duhai Ibu Profesorku.
Aku sudah curiga sejak dari dulu.
Ketika kulihat papan namanya.
Menyandingkan gelar profesor didepa gelar doktornya.

Padahal sudah kucari tahu.
Dia belum berhak menyandang gelar itu.
Dan kecurigaanku terbukti Ibu.
Sekitar setahun setelah kejadian itu.
Barulah padanya diberikan gelar itu.
Yang sudah berapa lama sebenarnya.
Terpasang dalam ruang prakteknya.
Memberikan "image" di benak para pasiennya.
Tentang profesionalitas dirinya.

Aku dikurungnya duhai Ibuku.
Dalam sebuah rumah gelap hampir tanpa ventilasi.
dan sebuah kamar mandi tak layak.
Yang dipakai bergantian.

Aku ingat saat itu Ibu.
Kucuci bajuku.
Dan tak kutemukan tempat jemuran.
Dijemur dimana?
tanyaku pada doktor sialan itu.
Dimana saja katanya.

Kujemur bajuku di pagar depan.
Tampak oleh orang yang lalu lalang.
aku sungguh sangat malu.
Hidup kok bagai gelandangan.
Dalam terapi tidak layak.
Yang menguras kantong Ibuku di Malang.
Sampai berhutang sana sini.

Aku juga jadi curiga padamu.
Duhai Ibu Profesorku.
Aku menjauh darimu.
Tidak ada lagi.
Perbincangan hangat bersahabat.
Yang terjadi di sore hari.
Saat-saat indah.
Saat-saat berarti.
Yang akan terus aku kenang.
Sampai aku menyusulmu nanti.

Keadaan bagiku kemudian menjadi sulit.
semakin sulit.....berkembang menjadi kompleks.
Permasalahanku semakin kompleks lagi.
Dan tak terkendali lagi.
Aku tetap menghindar darimu Duhai Ibu.
Maafkan salah anakmu ini.

Akhirnya terjadilah.
Saat paling mengerikan dalam hidupku.
Aku menjadi tak terkendali.
Akhirnya disuntik sampai mati.
Hampir selama tiga hari.

Akhirnya.....
Setiap masalah terjadi. Otak dan syarafku tak bekerja lagi.
Sampai kini.
Aku menjadi pecandu narkoba.

Setelah menyadari apa yang terjadi.
Duhai Ibu Profesorku.
Kutelepon engkau waktu aku dibalik pulau.
Menanyakan kabarmu.
Dengan rasa bersalah didadaku.
Engkau memang tidak bersalah.
Sungguh-sungguh tidak bersalah.

Maafkan aku anakmu ini.
Yang telah berprasangka buruk kepadamu.

Engkau berkenan menjawab teleponku.
Duhai Ibuku.
Baru pulang Hajji katamu.
Batuk-batuk kena debu.
Terimakasih untukmu dariku Ibuku.
Engkau sungguh Ibuku yang sejati

Medio August 4th 2012.
Kota Malang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Perhatian Pamanku

"Om, menika wonten lomba menulis novel saking Universitas Negeri Padang kerjasama kaliyan Deakin University Australia. Deadline-e kalih...